Pengertian Jenis & Macam Kegiatan Ekonomi – Arti Definisi Produksi, Distribusi dan Konsumsi – Ilmu Pendidikan Ekonomi Dasar

A. Produksi

Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun jasa. Contoh : pabrik batre yang memproduksi batu baterai, tukang mie ayam yang membuat mie yamin, tukang pijet yang memberikan pelayanan jasa pijat dan urut kepada para pelanggannya, dan lain sebagainya.

B. Distribusi

Distribusi adalah kegiatan menyalurkan atau menyebarkan produk barang atau jasa dari produsen kepada konsumen pemakai. Perusahaan atau perseorangan yang menyalurkan barang disebut distributor. Contoh distribusi seperti penyalur sembako, penyalur barang elektronik, penyalur pembantu, biro iklan, dan lain-lain.

C. Konsumsi

Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu prosuk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen. Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi disebut konsumen. Contoh konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari seperti membeli jamu tolak angin di toko jamu, pergi ke dokter hewan ketika iguana kita sakit keras, makan di mc d, main dingdong, dan sebagainya.

Ada Beberapa pengertian ekonomi menurut para ahli

ekonomi menurut M. Manulang merupakan suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran (kemakmuran suatu keadaan di mana manusia dapat memenuhi kebutuhannyabaik barang-barang maupun jasa).

Kata “ekonomi” berasal dari bahasa latin oikonomia yang mengandung pengertian pengaturan rumah tangga. Rumah tangga disini mungkin kecil seperti sebuah keluarga, mungkin juga besar seperti negara. Pengaturan demikian bertujuan untuk mencapai kemakmuran. Berbeda dengan hukum, pengaturan melalui ekonomi di atas terbatas pada usaha-usaha manusia untuk mencapai kemakmuran dengan menggunakan sumber daya ekonomi yang tersedia secara lebih efisien dan produktif. Jadi, belum berorientasi pada pencapaian keadilan dan kepastian hukum dalam penggunaan sumber daya ekonomi tersebut yang dapat dilakukan melalui hukum.

//

Dalam kehidupan sehari-hari, pasti Anda sering mendengar perkataan ekonomi. Coba sebutkan, apa saja yang mengandung perkataan ekonomi! Ya! Dapat juga ditambahkan, misalnya: pembangunan ekonomi, kesulitan ekonomi, golongan ekonomi lemah, pelayanan ekonomi, dan banyak lagi.
Istilah ekonomi mula-mula berasal dari perkataan Yunani. Oikos berarti rumah tangga, dan nomos berarti aturan.
Perubahan kata ekonomis menjadi ekonomi mengandung arti aturan yang berlaku untuk memnuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga. ekonomi: Peraturan rumah tangga.

Tentunya Anda akan bertanya: “ Apakah rumah tangga keluarga?” Rumah tangga dalam hal ini dapat meliputi rumah tangga perorangan (keluarga), badan usaha atau perusahaan rumah tangga pemerintah dsb.
Nah! Kapan ilmu ekonomi dikenal dan mulai dipelajari?
Sebelum orang mengenal ilmu ekonomi, raja-raja dan para cerdik pandai pada jaman dahulu menggunakan ilmu filsafat sebagai dasar untuk mengatur dan memecahkan persoalan ekonomi.
Dengan semakin pentingnya peranan ekonomi dalam kehidupan, mulailah banyak ahli yang tertarik untuk memecahkan persoalan ekonomi, karena filsafat tidak lagi sanggup memecahkan seluruh masalah yang berkembang di masyarakat.
Dalam perkembangannya, kita mengenal seorang tokoh sekaligus sebagai Bapak Ekonomi yaitu Adam Smith (1723 – 1790). Dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation, biasa disingkat The Wealth of Nation, yang diterbitkan pada tahun 1776. Secara sistematis untuk pertama kalinya Adam Smith menguraikan kehidupan ekonomi secara keseluruhan serta menunjukkan bagaimana semua itu berhubungan satu sama lain. Sejak itu jumlah pemikir ekonomi bertambah banyak, dan akhirnya ilmu ekonomi mengalami perkembangan yang pesat sebagai suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri.
Ilmu ekonomi:Bahan kajian yang mempelajari upaya manusia memenuhi kebutuhan hidup di masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan.
Bidang yang dipelajari oleh ilmu ekonomi sangat luas, yaitu tentang tingkah laku manusia dalam masyarakat, dalam usahanya mencari nafkah dan segala apa yang berhubungan dengan itu.
Sebetulnya banyak lagi definisi yang dapat diberikan, tetapi hakekatnya sama didasarkan kepada kebutuhan manusia.
Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi kemudian bercabang-cabang mengikuti perkembangan kehidupan ekonomi itu sendiri. Secara garis besar, perhatikan bagan pembagian ilmu ekonomi berikut ini.

Ilmu ekonomi deskriptif adalah kajian yang memaparkan secara apa adanya tentang kehidupan ekonomi suatu daerah atau negara pada suatu masa tertentu. Misalnya:
- Ekonomi Indonesia pada tahun 70-an.
- Ekonomi Jepang pasca perang dunia II.
Selain itu ilmu ekonomi juga dibahas khusus secara teori yaitu makro ekonomi dan mikro ekonomi. Ilmu ekonomi teori ini membahas gejala-gejala yang timbul sebagai akibat perbuatan manusia dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini makro ekonomi, mengkaji tentang pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguran, inflasi, dsb.
Mikro ekonomi, hanya mempelajari bagian-bagian dari teori ekonomi secara lebih mendalam seperti: pembentukan harga, rumah tangga produksi, konsumen, dsb.
Cabang yang ketiga dari ilmu ekonomi adalah ekonomi terapan. Ilmu ekonomi terapan merupakan cabang ilmu yang membahas secara khusus tentang penerapan teori ekonomi dalam suatu rumah tangga produksi, misalnya: ekonomi perusahaan, ekonomi moneter, ekonomi perbankan, dsb.
Bagaimana kaitan ilmu ekonomi dengan ilmu-ilmu yang lain? Karena perbuatan manusia sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka ilmu ekonomi dapat dikatakan memegang peranan penting dalam kehidupan sosial.

HUKUM EKONOMI
Hukum ekonomi adalah suatu hubungan sebab akibat atau pertalian peristiwa ekonomi yang saling berhubungan satu dengan yang lain dalam kehidupan ekonomi sehari-hari dalam masyarakat.
Lahirnya hukum ekonomi disebabkan oleh semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan perekonomian. Di seluruh dunia hukum yang berfungsi mengatur dan membatasi kegiatan-kegiatan ekonomi dengan harapan pembangunan perekonomian tidak mengabaikan hak-hak dan kepentingan masyarakat. Rochmat Soemitro memberikan definisi, hukum ekonomi merupakan sebagian keseluruhan norma yang dibuat oleh pemerintah atau penguasa sebagai satu personifikasi dari masyarakat yang mengatur kehidupan ekonomi di mana saling berhadapan kepentingan masyarakat. Sedang Sunaryati Hartono menyatakan hukum ekonomi indonesia adalah keseliruhan kaidah-kaidah dan putusan-putusan hukum yang secara khusus mengatur kegiatan dan kehidupan ekonomi di Indonesia.
Sunaryati hartono juga membedakan hukum ekonomi Indonesia ke dalam dua macam, yaitu:
a. Hukum ekonomi pembangunan, yaitu seluruh peraturan dan pemikiran hokum mengenai cara-cara peningkatan dan pengembangan kehidupan ekonomi (misal hukum perusahaan dan hukum penanaman modal)
b. Hukum ekonomi sosial, yaitu seluruh peraturan dan pemikiran hokum mengenai cara-cara pembagian hasil pembangunan ekonomi secara adil dan merata, sesuai dengan hak asasi manusia (misal, hukum perburuhan dan hukum perumahan).
Hukum ekonomi adalah hukum yang berkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi dalam berbagai kegiatan bidangnya ada yang diatur oleh hukum, ada pula yang tidak atau belim diatur oleh hukum. Jadi hokum ekonomi mempunyai ruang lingkup pengertian yang luas meliputi semua persoalan berkaitan dengan hubungan antara hukum dan kegiatan-kegiatan ekonomi.
Hukum ekonomi merupakan kajian baru yang berawal dari konsep kajian hukum dagang. Jadi embrio dari hukum ekonomi adalah kajian hukum dagang dan perkembangan pada bagian dari hukum perdata.
Kajian hukum perdata, dalam hal ini hukum dagang, selalu mempunyai tekanan utama pada perikatan para pihak (hubungan hukum para pihak) dan tekanan utama pada hak dan kewajiban para pihak. Pengkajian hukum dagang juga dikaji dengan pendekatan mikro saja sehingga hukum dagang berada dalam ranah privat. Sedang hukum ekonomi tidak hanya dikaji dari hukum perdata saja tapi harus dikaji dari banyak aspek sehingga membutuhkan metode pendekatan yang berbeda dari kajian hukum dagang atau perdata umumnya. Hukum ekonomi mempunyai kajian dengan pendekatan makro dan mikro. Kajian yang berkonsep makro maksudnya ialah kajian hukum terhadap setiap hal yang ada kaitannya dengan kegiatan pelaku ekonomi secara makro, dalam bagian ini ada campur tangan negara terhadap kegiatan tersebut sehingga tercapai masyarakat ekonomi
yang sehat dan wajar (ruang lingkup publik). Sedangkan kajian yang berkonsep mikro maksudnya ialah kajian yang mempunyai wawasan khusus terhadap hubungan-hubungan yang tercipta karena adanya hubungan hukum para pihak yang sifatnya nasional, kondisional, situasional (ruang lingkup hukum privat).Dengan demikian hukum ekonomi berada dalam ranah atau mengacu pada hukum privat dan publik.

ASPEK MONETER DAN IMPLIKASINYA DALAM MANAGEMEN  WAKAF UANG

1. Fungsi Uang

Di dalam masyarakat modern uang telah digunakan secara luas oleh anggota masyarakat sebagai :

a. Alat tukar untuk keperluan membeli dan atau menjual barang dan jasa, tenaga kerja, uang negara lain atau untuk memenuhi kewajiban warga terhadap negara  (pajak).

b. Alat untuk mengukur nilai barang dan jasa, tenaga kerja dan uang negara lain.

c. Standar pembayaran masa depan, dan

d. Satu cara untuk menyimpan daya beli atau kekayaan suatu masyarakat.

Sehubungan dengan fungsi keempat bahwa uang merupakan salah satu bentuk kekayaan (aset)  tersebut membuka sebuah  pemikiran  bahwa  uang  dapat memenuhi syarat untuk diwakafkan.ahli ekonomi (Bank Dunia, 2002) mengelompokkan aset menjadi lima (pentagon aset) sebagai berikut :

a. Aset sumberdaya alam, misalnya kebun, sawah dan lainnya yang jika dikelola dapat dipetik hasilnya. Awal pengembangan wakaf  adalah wakaf kebun dan lahan produktif lainnya. Ini tergelong Gerakan Wakaf Gelombang Pertama.

b. Aset fisik, misalnya tanah dan rumah yang kita miliki yang bila dikelola dapat dipetik hasilnya. Nampaknya wakaf aset fisik untuk pembangunan  sarana ibadah dan pendidikan  merupakan  bentuk wakaf Gelombang Kedua yang telah berhasil kita kembangkan.

c. Aset sosial yang bila dikelola juga dapat dipetik hasilnya. Contoh kongkrit aset sosial keagamaan yang terus tumbuh dan berkembang buahnya adalah  seperti organisasi sosial NU dan Muhammadiayah serta banyak aset sosial umat ini yang buahnya telah menumbuhkan kehidupan umat menjadi lebih sejahtera, Nampaknya di Indonesia, bentuk wakaf sosial tergolong gerakan wakaf Gelombang Ketiga.

d. Aset intelektual (HAKI, Hak Atas Kekayaan Intelektual, misalnya Hak Paten dll)  yang dapat mendatangkan hasil. Contoh yang telah dikembangkan adalah wakaf buku. Yang lebih  menantang adalah wakaf “hak paten”, tergolong gagasan wakaf Gelombang Keempat.

e. Aset finansial, seperti uang, kertas berharga dan lain sebagainya yang bila dikelola secara professional  pasti akan dapat dipetik hasilnya. Walaupun gagasan ini tergolong baru, dalam abad modern ini wakaf uang merupakan bentuk wakaf yang sangat menjanjikan. Pengembangannya. Mungkin ini tergolong gerakan wakaf Gelombang Kelima.

Pada saat ini Kelima Gelombang Wakaf tersebut telah tumpang tindih saling mengisi.

Sejarah wakaf seperti yang dijelaskan oleh Bapak Sudirman hasan, (El Zawa, 2010) tergambar perjalanan implimentasi wakaf dimulai dari zakat lahan yang menghasilkan, berlanjut dengan zakat lahan kering beserta bangunannya (fisik), kemudian wakaf buku dan yang lebih luas berupa wakaf Hak Paten, sekarang kita membicarakan wakaf uang, dan tentu menjadi lengkap jika selanjutnya kita membicarakan  wakaf aset (kekayaan) sosial.

Sebelum kita membedah penerapan wakap uang, ada baiknya jika kita membahas terlebih dahulu tentang uang itu sendiri, bahwa pada awal perkembangannya uang sebagai alat tukar adalah berupa emas (misalnya dinar)  atau mendapat jaminan emas oleh negara.  Namun kemudian  saat ini telah terjadi perubahan yang sangat mendasar tentang uang. Nilai uang suatu negara  menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat sebagai : “harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyapnya (nilai) pokoknya” seperti definisi Wakaf yang dikeluarkan oleh MUI (Sudirman Hasan, 2010).

Sebagai contoh  pada tahun 1986 saya membeli mobil Toyota baru senilai Rp. 22,5 juta rupiah. Saat ini untuk membeli mobil baru serupa tidak kurang  senilai Rp. 350. juta. Ini contoh sederhana, bahwa nilai pokok uang kertas bisa mencapai nol (tidak punya nilai) karena inflasi. Inflasi merupakan penyakit ekonomi modern yang memungkinkan uang kertas akan bernilai kertas semata, bahkan uang dolar (AS) maupun real (Saudi) sekalipun pasti tidak luput dari ancaman inflasi. Ini penting untuk disadari. Dengan alasan demikian, dunia Islam saat ini sedang bermimpi terwujudnya kembali uang dinar (emas).

Ini berarti syarat harta yang boleh diwakafkan dalam bentuk uang kertas hampir dipastikan menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat “tanpa lenyapnya (nilai) pokoknya”. Uang kertas saat ini adalah berbeda jauh dengan pengertian  uang dinar  (emas atau dijamin emas) yang dibahas oleh  Pasa Imam. Adzab).

2. Wakaf Uang   dan Masalah Inflasi

Ahli ekonomi menyadari bahwa hampir seluruh kegiatan ekonomi di dunia pasti tidak  terlepas dari peranan uang.Pengertian   uang disini mengarah pada uang chartal (uang kertas) yang dicetak atas nama negara, seperti Bank Indonesia. Dalam kenyataannya, bila  “harga uang” berubah, maka akan  berpengaruh  terhadap kehidupan eknonomi suatu bangsa sevara luas. Semua kegiatan ekonomi , baik yang menyangkut. konsumsi, produksi maupun pertukaran akan menerima  pengaruh akibat perubahan harga uang tersebut.

Sebagai contoh, bila harga-harga umum (barang-barang) naik (inflasi) maka pola konsumsi, pola produksi dan pola pertukaran barang-barang akan berubah menyesuaikan dengan kenaikan harga tersebut. Oleh karena itulah maka aspek moneter sangat erat hubungannya dengan tingkat pertumbuhan  ekonomi nasional, pertukaran internasional, bahkan juga tingkat perekonomian, konsumsi dan produktifitas rumahtangga (mikro). Dengan kata lain aspek moneter merupakan penghubung dari berbagai aspek cabang perekonomian suatu bangsa. Ini berarti perhatian kita untuk membicarakan wakaf uang akan menghantarkan kita pada peningkatan pendalaman  kondisi perekonomian  masyarakat kita.

Para Ahli ekonomi menegaskan salah satu peristiwa monoter yang sangat penting dan yang dijumpai di hampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut  inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus menerus juga perlu diingat. Kenaikan harga-harga karena, misalnya musiman, menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau “penyakit” Ekonomi dan tidak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk menanggulanginya. Perkataan “kecenderungan” dalam definisi inflasi perlu digaris bawahi.

Kalau seandainya harga-harga dari sebagian besar barang diatur atau ditentukan oleh pemerintah, maka harga-harga yang dicatat oleh Biro Statistik mungkin tidak menunjukkan kenaikan apapun (karena yang dicatat adalah harga-harga “resmi” pemerintah). Tetapi mungkin dalam realita ada kecenderungan bagi harga-harga untuk terus menaik. Keadaan seperti ini tercermin dari, misalnya, adanya harga-harga “bebas” atau harga-harga “tidak resmi” yang lebih tinggi dari harga-harga “resmi” dan yang cenderung menaik. Dalam hal ini masalah inflasi sebetulnya ada, tetapi tidak diperkenankan untuk menunjukkan dirinya. Keadaan seperti ini disebut “suppressed inflation” atau “inflasi yang ditutupi”, yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi makin tidak relevan bagi kenyataan.

Ada berbagai cara untuk menggolongkan macam inflasi, dan penggolongan mana yang kita pilih tergantung pada tujuan kita. Penggolongan pertama didasarkan atas “ parah” tidaknya inflasi tersebut. Disini kita bedakan beberapa macam inflasi :

  1. Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10-30% setahun)
  3. Inflasi berat (antara 30-100% setahun)
  4. Hiperinflasi (diatas 100 % setahun)

Penentuan parah tidaknya inflasi tentu saja sangat relatif dan tergantung pada “selera” kita untuk menamakannya. Dan lagi sebetulnya kita tidak bisa menentukan parah  tidaknya suatu inflasi hanya dari sudut laju inflasi saja, tanpa mempertimbangkan siapa-siapa yang menanggung beban atau yang memperoleh keuntungan dari inflasi tersebut. Kalau seandainya laju inflasi adalah 20% dan semuanya berasal dari kenaikan harga-harga dari barang-barang yang dibeli oleh golongan yang berpenghasilan rendah, maka seharusnya kita namakan inflasi yang sangat parah . Dalam kondisi inflasi parah, maka nilai wakaf uang kertas bisa mencapai nol.

3. Managemen Wakaf Uang : Pendekatan Hati-Hati

Banyak faktor berpengaruh terhadap  kecenderungan terjadinya inflasi, yang secara tingkat tergantung pada jumlah uang yang beredar dan harapan masyarakat  terhadap masa depannya. Begitu banyak faktor yang berpengaruh terhadap perubahan harapan masyarakat itu sendiri, sehingga kita sebagai subyek dalam masyarakat harus selalu memperhatikan kecenderunagn inflasi yang bergerak di sekitar kita, khususnya Lembaga Wakaf yang beroperasi untuk melayani wakaf Tunai (Uang) dari masyarakat. Kita perlu menggunakan pendekatan hai-hati, jangan sampai terjadi nilai pokok wakaf yang kita  kelola  menjadi nol.

3.1  Opsi Pertama : Menawarkan Program Investasi

Opsi ini banyak diterapkan oleh banyak kelembagaan sosial keagamaan Islam di sekitar kita. Lembaga sosial keagamaan tersebut menawarkan program investasi, misalnya pembangunan masjid atau sarana pendidikan. Tawaran wakaf  menggunakan satuan luas lahan (aset fisik), misalnya harga per m2. Rp. 100.000,- Maka  bagi masyarakat yang  ingin mewakafkan hartanya didasarkan pada luasan lahan berdasarkan  kemampuan  masing-masing berapa m2 yang dikehendaki.

Para penerima wakaf  berpegang teguh pada  nilai “aset tetap” yang bersifat fisik, karena disadari nilai uang yang bisa berubah dari harga pokok yang diwakafkan. Tentu saja program investasi tersebut bisa dikembangkan untuk berbagai macam barang dan jasa ekonomi.

3.2  Opsi Kedua :  Akumulasi Wakaf Uang, Kemudian  Investasi Aset Tetap dan Produktif

Opsi ini  ditempuh setelah mempelajari kecenderungan angka inflasi yang terjadi satu tahun sebelumnya. Bila inflasi ringan, yaitu  kurang dari 10% (satu digit), maka  akumulasi wakaf uang tersebut dirupakan dalam bentuk  aset produktif dalam tahun yang bersangkutan. Pilihan investasi produktif  perlu dijaga agar nilai  wakaf uang tersebut terus bertambah, sekurang-kurangnya tidak berubah (nilainya tidak dimakan  inflasi, misalnya dirupakan dalam bentuk  emas).

Pilihan investasi sarana  produktif tersebut  perlu memperoleh penekanan.

4. Penutup

Lembaga pengelola Wakaf uang  perlu memberikan perhatian yang tinggi terhadap masalah inflasi yang pasti  akan dihadapi oleh para  pengelola Wakaf Tunai (Uang), karena inflasi pasti merupakan ancaman nyata terhadap penurunan nilai  wakaf uang yeng terkumpul. Cara pandang demikian diperlukan untuk pendekatan hati-hati dalam mengelola wakaf uang. Hal itu menjadi kata kunci untuk menjaga agar wakaf uang yang terkumpul sama-sama terjaga nilai pokoknya.

Upaya lain yang juga tidak kalah pentingnya misalnya menjadikan aset finansial yang terkumpul dari wakaf uang menjadi produktif secara berkelanjutan. Professionalisme dalam mengelola wakaf uang tentu menjadi sangat penting, agar uang yang terkumpul bukan saja tidak berubah bahkan tumbuh dan berkembang untuk kemaslahatan umat.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s